Minggu, 08 Februari 2015

bukan puisi cinta

Mencoba menghiasi hari demi hariku
Dari kejauhan dia menghibur, dan menemani rasa bosanku
Dimensi waktu membawanya kembali disisiku
Hadir dengan sebuah senyum tersungging di bibir
Terasa sebuah tangan halus menyentuh mahkotaku
Hangat yang kurasa, indah yang kubayangkan
Sebuah sinar membawa kita untuk berjalan lebih jauh
“ jangan, aku pikir itu terlalu jauh”
“ tak usah kau takut, aku akan selalu disampingmu” bisiknya
Ketika itu juga aku percaya dan aku menjadi seorang pemberani
Jenuh, mungkin tiba-tiba aku mulai merasakannya
Setelah kau membawaku menuju cahaya itu, aku sadar
Banyak yang masih tertinggal disana, di tempat gelap nan mengerikan itu
Aku harus putar balik membuat semuanya jadi temanku
Satu pilihanku di situ, meninggalkanmu, iya, aku harus merelakanmu
Aku rela melepasmu, untuk sesaat atau mungkin selamanya aku pun tidak tahu
Dia yang maha tahu, dia yang maha esa yang tahu
Aku bertanya kepada-Nya, bukan, dia bukan membisu
Dia Cuma enggan menjawab seonggok daging busuk hati ini

Tunggulah, tunggu dia menjawab, dia tidak akan mengubah takdirmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar