Bukan puisi beneran, hanya curahan hati yang bimbang
Malam datang dengan hembusan angin yang menerpa muka di hadapan
jendela
Seorang wanita dengan muka kusut teringat akan sesuatu hal
Hal yang indah dikala itu
Saat wanita itu masih bersama dia yang selalu mengalah
Dia yang selalu sabar dengan wanitanya yang egois
Dia yang selalu salah dihadapan wanitanya
Dia yang selalu membenarkan wanitanya
Dia yang tidak pernah bosan dengan perlakuan wanitanya
Dia yang kini tak nampak dihadapan wanitanya
Tapi dia kini yang menghantui pikiran wanitanya
Dia yang diam-diam menyelinap masuk lagi ke hati wanitanya
Masuk melalui celah-celah yang sudah rapuh termakan waktu
Dia yang kini menjadi harapan si wanita itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar